Minggu, 28 November 2010

Tanah Sakera

Di atas tanah Sakera ini aku lahir
Di hamparan pasir yang memucat darahku mengental
Bau amis ikan kering dan asi peluh Bapak di lautan
Terangkai tulang belulang jadi sejati

Lampu kapal meredup dihanyutkan peri malam
Hanya layar senjatanya
Ombak mengaum menghantam tubuh Bapak
Tak goyah, tak oleng
Untuk mengganjal perut

Aroma geledak sampan terbawa raja pagi
Merapat agak ke tepi
Serenteng mainan laut dinanti
Para janda di sekujur pasir putih


Aku dan anak pantai yang berlari
Gosong terbakar matahari
Telusuri hutan dengan clurit ditangan
Cabik-cabik dahan kering Cemara Udang

Wanita tua dengan tongkat di genggaman
Gambarkan keriput kehidupan
Bau basah di pesisirku

Di antara tali tampar
Ia tukaskan kepasian
Taburkan kerikil-kerikil pengorbanan

Nanahku kini t'lah cair
Persendian itu mulai kaku
Dan tenggorokan pun berkarat

Tapi egoku masih membubung jauh
Tatapan mata elang masih tajam belum terasah

Sampaikan salam damai
Dari Sumenep untuk Dunia

Santi Novita Sari, 9-11-2010

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar