Sabtu, 29 Oktober 2011

UNTUK “DIA”


Dalam do’a ku eja selalu sebilah nama
Dalam pikir ku renung selalu sekilas kisah
Ku telankan dalam maya
Lalu ku tinggali di dasar detak napasku
Ku ingin terangi hatinya dengan sepotong lilin
Memucat di ujung sumbunya
Ku ingin terjaga pada setiap seret langkahnya
Menantinya di penghujung senja
Bercengkrama bersama putra-putra bumi
Sepanjang penat yang terlewat
Mengabarkan pada pagi cerita kemarin
Menyapa mentari dengan segelas kerinduan
Hingga mengatup nanti jendela mataku
Terpendam dalam kesunyian dan kebekuan
Membiru dalam putaran memoriku
Basah oleh lantunan Surah Yaasin

29-10-2011
01.02
# DiCiBePAH_7 #

SIAPA ???


Diatas punggung pantai kini ku terduduk
Terbangkan segala harapan
Tak kau temui jiwa yang dulu
Ku lihat saja gerak-gerik angkasa
Untuk apa ???
Tangan ku pun tiada mungkin kau jamah
Terlalu sesak tuk selipkan sebulir sosok
Bukan karena keegoisan
Bukan pula pincangnya hati
Tapi kebebalan yang terus mengelupas
Pikir pun tak sanggup menyumbatnya
Hingga noda itu kelabui binar jati dirimu
Dan bukan lagi cahaya membias bibir langit

28-10-2011
14.25
# DiCiBePAH_7 #

RAGU


Katamu terpahat indah dalam wadahku
Lisanmu melenggokkan pesona dalam jantungku
Sama tak pentingnya dengan ucap kau sangatlah penting untukku
Sama tak butuhnya dengan ungkap kau kubutuhkan bagiku
Tiada bisa ku cerna goresan di bibirmu
Licik atau unik
Kau nampak canggung menatap kelaraanku
Kau nampak takut mengelus lukaku
Kau acuhkan darah itu tergeletak
Sampai sejasad datang menjilatinya
Lalu menyudutlah bola matamu dalam kesangsian
Suka atau duka
Kau masih sangat mampu merogoh batinku
Tapi tidak denganku
Bayangmu hanya sekilas sekelebat menghilang
Hadir membawa secawan obat penantian
Pergi dengan sejuta kehausan

28-10-2011
12.00
# DiCiBePAH_7 #

LUKA YANG NANAR


Mentari datang dengan wajah yang merona
Mengangkat segala kejujuran
Dia pahat kini gambar diri
Terlukis penuh nanah sketsa itu
Berhenti lah !!!
Jika luka nanar itu kian merobek ulu nadimu
Diam menatapmu, ini tempatku
Lama ku tinggali dalam kedinginan
Bersama air mata yang mulai koyak dan lusuh
Perlahan angin membersit membisik lembar telinga
Jangan lagi diam !!!
Langkahku menggerset setiap detik yang ku bawa
Ini hanya perhentian kala camar sudah mengandung
Hingga anakan itu tiba dan mencumbui raja masa ???
Lihat saja !!!
Tiada berani ku tanyakan itu pada Ilahi

23-10-2011
06.20
# DiCiBePAH_7 #

BENAR TAK PASTI


Lecutan sayap pelatuk
Mengukir di dahan cemara keronta
Dentuman petir
Tiada henti mengolok
Buih ombak tiada mungkin sampai ke daratan
Jala saja ikan-ikan yang kehausan itu
Sudah lama sang waktu berduet dengan ku
Terus terikat di ruang tanpa oksigen sebagai lilinnya
Menganga, melongo, habislah dirimu
Tenggelam dan terus mengayuh dalam putihnya penantianku
Kini ku terduduk di karpet hitam
Menyedu alam yang memerankan sandiwaranya
Hai, langit !!!
Aku disini saja
Menunggumu menggapaiku

23-10-2011
03.00
# DiCiBePAH_7 #