Kamis, 22 Oktober 2009

pRendShip

pRendShip
by: Sand_Tea gouwkilz

aQ bersyukur telah mengenalnya...
aQ biza merasakan senyumnya...
aQ mampu melihatnya...
tapi terkadang nasib mengubah semuanya..
mengubah kehidupanQ dengannya,,
takdir tak lagi sepaham denganQ,,
angin telah membawanya ke alam dimana aQ tak lagi biza menatapnya
tak mampu mendengar tangiz dan candanya,,
haruzkah ku kubur semua kenangan qt,,,bersama ragamu yang mulai membiru??
S A H A B A T ,,,, aQ di sini akan selalu mengenangmu!!

pRenShip

ARTI SAHABAT

Gadis badung kelahiran Bandung 1991 ini memiliki 2 oarang sahabat. Yang satu bernama Leon dan yang satunya lagi bernama Dinta. Mereka satu sekolah di SMAN 7 Kasih Bunda, Bandung. Leon telah duduk di kelas XII, sedangkan Dinta dan Manda masih duduk di kelas XI. Persahabatan ini telah terjalin sejak mereka bertiga masih di bangku SD. Dinta punya sifat yang ramah, sopan, dan berpenampilan super cewek. Kalau Si Manda, dia ini udah tomboy, cuek, jutek, suka usil lagi. Tapi jangan salah, dia pernah juara basket and juara sepak bola waktu SMP loh!!

Panas mentari pagi yang menyengat kulit, ditemani dengan segelas es Toktok Bang Jun menyita perhatian 3 sahabat ini. Seakan setan yang haus darah manusia.

“Ta, ke dunia beku yuk!!” ajak Manda.

“Otak lu tuh yang beku! Minum es Toktok aja lu kata dunia beku, dapet hujan es, beku beneran lo!” balas Dinta.

“Manda…Manda… ini kan masih jam sekolah, mana boleh keluar! Apalagi kalau niatnya cuma beli es Toktok. Mau lo, bertandang di ruang BP?” jelas Leon.

“Ya udah… gak perlu nyeramahin gue kali`! kita masuk aja yuk! Oh iya sekarang pelajaran gue, bu Leli! Kalau telat, bisa dihukum gantung gue! Udah yuk, buruan masuk!” gelisah Manda.

Tiba di kelas, bel berdentang. Teng….teng…..teng… Manda bersyukur karena tepat waktu.

“Selamat siang anak-anak. Keluarkan tugas yang ibu berikan kemarin!”

“Mampus gue!! Gue lupa hari ini ada tugas bikin pidato bahasa Inggris sebanyak 2 halaman folio. Duh…gimana nih!” bisik Manda yang tampak pucat.

“Ayo kumpulkan! Manda tugasmu mana?” Tanya bu Leli.

“Tugas saya hilang, bu. Kemarin tas saya di copet, bu.” Keluhnya dengan wajah tampak memelas.

“Kecopetan? Oh, jadi pencopetnya mau belajar bahasa Inggris ya!” sindir bu Leli.

“Sialan, gue ketahuan!” setengah berbisik.

“Manda, keluar kamu! Lari 30 kali lapangan basket dan berdiri dengan satu kaki sampai pelajaran ibu selesai! Dasar pemalas!” umpat bu Leli.

“Bu, saya itu baru sekali tidak mengerjakan tugas dari Ibu. Kenapa ibu mengatakan saya pemalas? Saya tidak terima dikatakan siswi pemalas oleh guru yang centil seperti ibu!” balas Manda dengan tegas.

“Kamu ini,,!! Pak….”

Tanpa sadar bu Leli telah melayangkan tamparannya pada Manda. Keadaan kelas seketika hening. Tak ada seorangpun yang berani mengalunkan suaranya. Keheningan terpecah, setelah para murid di kelas itu melihat Manda meneteskan air mata.

“Ibu menampar saya? Kenapa ibu menampar siswinya sendiri? Bukankah guru berarti orang tua? Ibu perlu tahu, bahwa ibu dan ayah saya belum pernah manampar saya dengan penuh amarah dan nafsu seperti ibu! Meski pada nyatanya, orang tua saya tidaklah pernah menyayangi saya. Tapi mereka tidak sekasar ibu. Saya tidak mengira ibu akan menampar saya. Saya kecewa dengan ibu!!” ungkap Manda dengan air mata yang mengucur sederas hujan dan meninggalkan ruang kelas.

Pagi berselimut mendung, sama halnya dengan hati Manda saat berangkat ke sekolahnya. Hari ini dia lebih memilih mengunci kata dan diam bagai lukisan. Perjalanan ke sekolah dengan mengendarai mobil bersama Leon dan Dinta serasa hambar. Begitulah Manda. Jika tak ada Manda, semuanya jadi sunyi, sesunyi kuburan.

“Man, lu kenapa sih? Dari tadi diem aja.” tanya Dinta.

“Lu masih BT gara-gara kejadian kemaren ya, Man? Udahlah gak perlu dipikirin! Gini aja deh, gimana kalau sekarang kita nge-jim ke Puncak? Aji mumpung aja! Cuma sehari kok bolosnya!” rayu Leon.

“Gak! Gue tetep mau sekolah!”

“Ah, gak asyik lo!”tegur Leon.

“Bodo amat! Eh yon, perlu lo tahu badung-badung gini, gue masih punya minat sekolah tahu! Gue kasihan ama bonyok (bokap-nyokap) gue yang udah susah payah kerja nyari duit buat sekolah gue!” tuntut Manda.

“Serius lo? Bukannya bonyok lo gak pernah merhatiin lo?” balas Dinta

“Kalian tuh kenapa sih? Bukannya ngedukung gue, malah nge-jeblokin bonyok gue!” umpat Manda kesal.

“Sorry deh! Kita yang salah. Ok, sekarang kita ke sekolah.” Sahut Dinta.

Pagi itu di sekolah Manda minta maaf kepada bu Leli atas ucapannya kemarin.

“Good morning Mrs? I`m so sorry for my say yesterday, please!” ucap Manda pada bu Leli dengan nada selembut mungkin.

“It`s ok! You don`t full wrong. I`m wrong too. And I say sorry.” Balas bu Leli dengan suara serak seraya memeluk tubuh Manda dengan penuh kasih sayang.

Hari ini mereka pulang lebih awal karena ada pertemuan penting di sekolah yang menyebabkan para murid dipulangkan.

“Man, cafĂ© yuk?” ajak Leon.

“Yoi! Kalau sekarang gue bebas mau kemana aja! Nyok kita makan es krim!” balas Manda menerima ajakan Leon.

“Gue ikut boleh kan non?”

Suara itu mengagetkan Manda dan Leon. Ternyata Dinta yang bertanya.

“Oce deh! Nuhun kita mangkat!” kata Leon.

Tiba di restoran mini. Mereka langsung memesan 3 es krim.

“Eh, gue ke toilet dulu yah!” kata Leon membuyarkan keasyikan mereka.

“Gue juga deh!” tambah Dinta.

“Loh kok barengan gitu sih? Jangan-jangan janjian nih?”sindir Manda.

“Ya gak lah! Masa ke toilet berdua? Kan lain jalur?” balas Leon.

“Nuhun nyak, kebelet ini!” imbuh Dinta.

30 menit duduk sendiri, ditinggal temen ke toilet. Manda gelisah dan memutuskan untuk menyusul 2 sahabatnya ke toilet. Tapi betapa shock-nya dia melihat 2 sahabatnya itu tergeletak di lantai toilet cowok dengan mulut penuh busa.

Astaga, Leon, Dinta! Kalian kenapa? Bangun dong, gak lucu tahu!” teriak Manda.

Tak ada respon dari keduanya, Manda berteriak meminta bantuan orang lain untuk membawa mereka berdua ke mobilnya untuk dibawa ke Rumah Sakit.

Setiba di rumah sakit dan dokter telah memfonis bahwa Leon dan Dinta over dosis obat-obatan terlarang.

“Gak mungkin, Dok! Mereka tuh gak pernah pakai barang gituan!” desak Manda.

“Tapi nyatanya mereka memakainya dan sekarang over dosis. Cobalah menerima takdir dengan tangan terbuka. Jangan pernah menentangnya, bahkan takdir yang tak pernah kita harapkan!” ucapan dokter itu seperti hujan paku yang menghantam sekujur tubuhnya yang lemah. Ia tak pernah menyangka sahabatnya menggunakan barang haram itu untuk kesenangan duniawi.

“Ta, Yon, kenapa lo pakai barang haram itu? Lo kan bisa cerita ke gue kalau kalian ada masalah!” ucap Manda dengan air mata yang terus membasahi pipinya.

“Sorry Man, bukan gue gak nganggep lo sobat gue. Tapi gue cuma gak pengen lo juga ikut masuk dalam masalah gue dan Leon. Masalah ini terlalu rumit dan berat untuk lo. Biar gue dan Leon aja yang ngatasin.” terang Dinta.

“Sebenernya masalah kalian itu apa?” tanyaku.

“Orang tua Dinta udah cerai dan ortu gue juga udah cerai. Mereka sama sekali gak memperhatikan kita lagi sebagai anaknya. Dan parahnya lagi, mamaku dan ayahnya Dinta mau menikah. Jujur kita berdua gak mau ortu kita menikah. Tapi mereka gak peduli sama sekali. Dan kami putuskan untuk memakai obat-obatan itu agar pikiran kami bisa tenang dan fresh lagi. apalagi saat ketemu lo, gue gak mau lo sedih karena gue sebenernya suka ama lo Man.” jelas Leon sedetail mungkin.

“Tapi lo gak harus pakai obat itu kan Yon!” balas Manda.

“Terlambat Man!”

Tiba-tiba suara Leon terputus dan mukanya memucat serta tubuhnya mulai dingin.

“Yon, lo kenapa? Kebanyakan makan es krim lo!” ungkap Manda sambil mengguncang-guncang tubuh Leon.

Esoknya Manda dan Dinta yang sudah boleh keluar dari rumah sakit, pergi melayat dan berziarah ke makam Leon.

Leon, sahabat kita yang baik, lo baik-baik disana yah! Jaga diri dan jangan sampai pakai obat itu lagi. ingat selalu pesan sahabat yang mencintaimu ini.” Ungkap Manda di depan kuburan Leon.

Leon, saudara kita yang baik, lo jangan sedih karena gue udah baik dan akan menjadi lebih baik lagi. gue mohon lo ikhlasin ortu kita!” pesan Dinta.

Semenjak itu Dinta dan Manda memilih untuk menggunakan jilbab setiap saat. Mereka semakin akrab dan tak pernah bertengkar. Mereka juga tak pernah melupakan Leon, sahabatnya yang hancur karena keluarganya sendiri. Dan itu mereka jadikan pelajaran berharga semasa hidup mereka untuk tidak menggunakan obat-obatan terlarang. Mereka juga menemukan pentingnya sahabat dan pentingnya selalu mengingatkan sahabat kita yang salah jalan.

Selesai