Senin, 09 Mei 2011

Shosetsu Jepang untuk Izha - Part 4

Sesampainya di kantin, Izha dan Meli langsung memesan, lalu mencari tempat duduk. Pada saat itu kantin sesak dengan siswa-siswa kelas XII-EXACT-1. tak lama Pak Yori berjalan mendekati Izha.
”Izha ! Pesanan Bapak mana ?” tanya Pak Yori mengambil posisi duduk di hadapan Izha.
”Ini, Pak !” jawab Izha menyodorkan secangkir nescafe pesanan Pak Yori.
Meli yang sedari tadi cengar-cengir melihat keduanya, akhirnya membuka mulut juga.
”Oh ya, Pak. Dengar-dengar, Bapak lahir di Jepang ya ?” tanya Meli penasaran.
“Iya. Kenapa ?” tanya Pak Yori polos.
”Wuuuuaaaaaahhhh >.< Asyik dong ! Ajak kita-kita dong, Pak kalau mau ke Jepang lagi.”
”Hahahah.... Insyaallah”

Jumat, 06 Mei 2011

Shosetsu Jepang untuk Izha - part 3

Pak Yori pun berusaha menenangkan siswa-siswanya.
"Sudah ! Sudah ! Kalian ini, aneh-aneh saja !" tutup Pak Yori
"Jangan mengalihkan pembicaraan deh, Pak !" sahut Rizki
"Iya, Bapak mengalihkan pembicaraan memang ! Karena sekarang waktunya memulai pelajaran, bab baru ! Mengerti !"
"Yaaaaaahhh,, bapak ! Nggak seru ah !"
"Kata siapa nggak seru ?! Pelajaran kali ini, lain dengan pelajaran sebelumnya loh ! Hari ini, kita akan belajar di halaman sekolah sambil bermain !"
"Horeeeee ..." serentak siswa kegirangan, lalu berhamburan menuju halaman sekolah

Setibanya di halaman sekolah, Pak Yori menerangkan cara bermainnya. Mula-mula ia membagi mereka menjadi 3 kelompok, masing-masing beranggotakan 10 orang. Tiap-tiap anggota kelompok memegang nama-nama planet dan matahari. Lalu berbaris ke belakang sesuai urutan planet di tata surya dan mengelilingi matahari sesuai dengan orbitnya masing-masing.
"Pak, disini cuma tinggal 9 orang. Bagaimana ?" tanya Akbar yg ternyata satu kelompok dengan Izha
"Ya sudah, Bapak masuk dalam kelompokmu." solusi Pak Yori
"Baik, Pak ! Dengan senang hati. Tapi yg tersisa cuma matahari, Pak ! hehehe .." slengek Akbar
"Iya, tidak apa-apa." jawab Pak Yori datar
"Pak ! Bapak dan kelompok bapak dulu ya yg mempraktekkan ! Jadi contoh gitu, Pak !" teriak Rizki dari kelompok lain sambil ketawa tak jelas di ikuti ketawa siswa yg lain

Shosetsu Jepang untuk Izha - part 2

Ruang kelas Izha pun menjadi ricuh dan gaduh. Lirikan mata yg begitu tajam menikam, cibiran kata-kata pun membuat hati Izha menjadi ketir. Izha mulai risih sendiri dengan sikap teman-temannya itu. Ia berusaha untuk tetap bersikap biasa, namun ia tak bisa bohongi dirinya sendiri bahwa ada perasaan khawatir dan takut yg menghantui batinnya.
"Hai, Zha !" sapa Meli, sahabat Izha yg duduk tepat di sebelah Izha
"Hai, Mel !" Izha tersenyum
"Gue liat tadi lu bareng Pak Yori ya ?!"
"Ehm, iya. Tadi gue ketemu dia waktu gue mau berangkat ke sekolah. Eh, dia ngajakin berangkat bareng. Awalnya gue gak mau, tapi dia maksa. Ya udah, gue ikut aja." terang Izha panjang lebar
"0uwh gitu ! Ciiiieeeee...Ciiiieeeee... ABG tua nih !! hehehe :P" goda Meli cengengesan
"Apaan sih !!"
"Tuh buktinya. Pipimu merah !"
"Aaaaahh ! Nggak !"

Bel pelajaran pun berdentang keras menggetarkan dinding-dinding lonceng. Para siswa berlarian menuju ruang kelas bak sekelompok zebra yg terbirit-birit ketika sang pemangsa datang. Seorang guru laki-laki memasuki kelas XII-EXACT-1, kelas Izha belajar dengan lembaran-lembaran kertas ulangan di tangan kirinya dan sebuah tas gendong yg menempel di punggungnya.
"Selamat pagi murid-murid." sapaguru itu saat tiba di kelas Izha
"Pagi, Pak !" jawab siswa serempak termasuk Izha
"Ini adalah hasil ulangan kalian 3 hari yg lalu." ungkap guru itu sambil meletakkan kertas ulangan mereka di atas meja Izha
"Wuuuuaaaaaahh... Langsung dibagikan saja, Pak !" serempak siswa
"0k ! Bapak bagikan sekarang sekalian Bapak sebutkan nilainya." kata pak guru
"Jangan, Pak ! Malu kalau nanti nilainya jelek !" ucap Meli
"Loh, kenapa harus malu ? Itu kan hasil kerja keras kalian sendiri bukan orang lain ?!"

Shosetsu Jepang untuk Izha - part 1

"Pagi dunia ^_^" sapa Izha, gadis belia yg tinggal di kompleks perumahan Bandung. Rumah cat biru paling timur, tempatnya bersama keluarga.
"Izha, ayo sarapan !" teriak mamanya dari lantai bawah
"Iya, ma ! sebentar ! Izha pasang sepatu dulu !" balas Izha dengan suara lantangnya yg menyaingi sound tetangga saat ada lamaran.

Wajah riang diiringi derap langkah sepatu sport menuruni tangga rumahnya. Sekejap saja Izha telah sampai di ruang makan keluarga. Secepat kilat ia menyantap masakan buatan mamanya.
"Ma, Izha berangkat sekolah dulu ya ?" ucap Izha perlahan mendekati mamanya seraya menyodorkan tangannya.
"Kamu ini, kebiasaan deh ! Makan tuh jangan cepet-cepet, dikunyah dulu !" sindir mama dengan senyum melingkar di wajahnya.
"Hehehehe .. udah telat, ma." balas Izha cengengesan.

Buru-buru Izha mengambil skateboard-nya, lalu berangkat menuju sebuah gedung sekolah di belakang tempat tinggalnya.
Tiba-tiba seorang guru menyapanya.
"Izha !" sapa guru itu masih tetap di atas sepeda motornya
"Ada apa ?" balas Izha cuek dan tetap konsentrasi di atas skateboard-nya
"Mau ikut ? Dari pada kamu naik skateboard-mu. Nanti telat loch !"
"Nggak ah ! Bapak duluan aja ! Nggak enak diliatin temen-temen yg lain."
"Emang kenapa ? Lagian kan bapak cuma ingin membantu kamu aja ! Dari pada kamu telat, trus dapat point, di hukum lagi, iya kan ?!"
"Tetep aja nggak enak, pak !"
"Rasa apa sih, kok nggak enak ?!"
"Ah, tau ah !!"