Pak Yori pun berusaha menenangkan siswa-siswanya.
"Sudah ! Sudah ! Kalian ini, aneh-aneh saja !" tutup Pak Yori
"Jangan mengalihkan pembicaraan deh, Pak !" sahut Rizki
"Iya, Bapak mengalihkan pembicaraan memang ! Karena sekarang waktunya memulai pelajaran, bab baru ! Mengerti !"
"Yaaaaaahhh,, bapak ! Nggak seru ah !"
"Kata siapa nggak seru ?! Pelajaran kali ini, lain dengan pelajaran sebelumnya loh ! Hari ini, kita akan belajar di halaman sekolah sambil bermain !"
"Horeeeee ..." serentak siswa kegirangan, lalu berhamburan menuju halaman sekolah
Setibanya di halaman sekolah, Pak Yori menerangkan cara bermainnya. Mula-mula ia membagi mereka menjadi 3 kelompok, masing-masing beranggotakan 10 orang. Tiap-tiap anggota kelompok memegang nama-nama planet dan matahari. Lalu berbaris ke belakang sesuai urutan planet di tata surya dan mengelilingi matahari sesuai dengan orbitnya masing-masing.
"Pak, disini cuma tinggal 9 orang. Bagaimana ?" tanya Akbar yg ternyata satu kelompok dengan Izha
"Ya sudah, Bapak masuk dalam kelompokmu." solusi Pak Yori
"Baik, Pak ! Dengan senang hati. Tapi yg tersisa cuma matahari, Pak ! hehehe .." slengek Akbar
"Iya, tidak apa-apa." jawab Pak Yori datar
"Pak ! Bapak dan kelompok bapak dulu ya yg mempraktekkan ! Jadi contoh gitu, Pak !" teriak Rizki dari kelompok lain sambil ketawa tak jelas di ikuti ketawa siswa yg lain
Pak Yori sadar bahwa dirinya digoda karena kedekatannya dengan Izha. Namun Pak Yori pasrah saja, karena baginya pemaksaan dan tekanan hanya akan membuat siswa-siswanya capek, boring, dan pelajaran pun enggan menempel. Sikapnya yg lemah lembut dan care pada siswanya menyebabkannya begitu disukai banyak siswa. Tak heran jika para gadis di sekolah itu terkesan mengejar-ngejar Pak Yori. Apalagi siswi kelas XII seangkatan Izha.
Permainan pun berlangsung dengan asyik dan seru. Tanpa terasa bel berakhirnya pelajaran berbunyi. Namun rasa senang masih menyelimuti hati mereka. Ditambah lagi pelajaran setelah ini kosong, karena guru pengajarnya sakit. Kelas pun kehilangan penghuninya. Mereka bertransmigrasi ke kantin.
"Izha ! Kamu mau ke kantin ya ?" tanya Pak Yori saat melihat Izha hendak keluar kelas
"Iya, Pak ! Ada apa ?" Izha balik bertanya pada Pak Yori yg tengah mengemas buku-bukunya di meja guru
"Tolong belikan nescafe dingin nggak pakai gula ya untuk Bapak ? Ini uangnya. Nanti Bapak nyusul kamu ke kantin. Sekarang Bapak mau ke ruang kepala sekolah dulu !" ucap Pak Yori sambil menyodorkan uang Rp. 20.000,-
"Baik, Pak !" jawab Izha dan terus menuju kantin
Jumat, 06 Mei 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar