Sesampainya di kantin, Izha dan Meli langsung memesan, lalu mencari tempat duduk. Pada saat itu kantin sesak dengan siswa-siswa kelas XII-EXACT-1. tak lama Pak Yori berjalan mendekati Izha.
”Izha ! Pesanan Bapak mana ?” tanya Pak Yori mengambil posisi duduk di hadapan Izha.
”Ini, Pak !” jawab Izha menyodorkan secangkir nescafe pesanan Pak Yori.
Meli yang sedari tadi cengar-cengir melihat keduanya, akhirnya membuka mulut juga.
”Oh ya, Pak. Dengar-dengar, Bapak lahir di Jepang ya ?” tanya Meli penasaran.
“Iya. Kenapa ?” tanya Pak Yori polos.
”Wuuuuaaaaaahhhh >.< Asyik dong ! Ajak kita-kita dong, Pak kalau mau ke Jepang lagi.”
”Hahahah.... Insyaallah”
”Eh, Pak ! Izha tuh pengen banget pergi ke Jepang loh, Pak !”
”Apaan sih, Mel !” spontan Izha yang mukanya mulai memerah karena malu
”Oh, ya ?!” Emang kenapa Zha ?? Apa menariknya Jepang ?” tanya Pak Yori
“Yaelah, Bapak ! Bintang-bintang tekwondo kan dari Jepang semua, Pak !” sahut Meli
“Oh, jadi Izha pengen jadi bintang tekwondo juga ?” tanya Pak Yori pada Izha
“Ehm… iya, Pak. Tapi rasanya nggak mungkin deh. Pesaingnya terlalu banyak dan hebat-hebat. Saya sih nggak ada apa-apanya dibandingkan mereka.” Jawab Izha merendah
“Izha, di dunia ini tuh nggak ada yang nggak mungkin. Semuanya bisa kita lakukan selama kita mau berusaha dan bertawakkal.” terang Pak Yori
”Nah, denga tuh Zha apa kata guru tersayang !!” sindir Meli
“Hah ?! Dasar gila lu, Mel !!” balas Izha semakin malu
Tiba-tiba seorang gadis dengan pakaian nyentrik menghampiri mereka. Dialah Cindy.
“Hai, Pak ! Hello, guys !” sapa Cindy yang sok cantik, lalu duduk tepat di samping Pak Yori
“Cindy ?!” kata Pak Yori
“Iya, Pak Yori sayang. Ini Cindy. Cindy sengaja datang kesini Cuma mau dengar kelanjutan cerita cinta antara siswa dan gurunya yang Bapak ceritakan pada Cindy kemarin.”
”Ehm... iya. Tapi kan Bapak janji akan menceritakannya di kelas. Bukan disini.”
”Nggak usah lebay gitu deh, Cin !!” tukas Meli yang sedikit ilfill melihat tingkah Cindy
Mendadak Izha pergi dari tempat itu dan berlari menuju kamar mandi. Meli yang melihatnya pun mengejar Izha. Sementara Pak Yori masih diam terpaku.
“Udah lah, Pak ! Nggak usah dipikirin ! Dia pasti cemburu lihat Cindy sama Bapak !” kata Cindy
Pak Yori masih tetap diam sementara Izha mengunci diri di kamar mandi. Ia menangis dan Meli berusaha menghiburnya.
0 komentar:
Posting Komentar