Ruang kelas Izha pun menjadi ricuh dan gaduh. Lirikan mata yg begitu tajam menikam, cibiran kata-kata pun membuat hati Izha menjadi ketir. Izha mulai risih sendiri dengan sikap teman-temannya itu. Ia berusaha untuk tetap bersikap biasa, namun ia tak bisa bohongi dirinya sendiri bahwa ada perasaan khawatir dan takut yg menghantui batinnya.
"Hai, Zha !" sapa Meli, sahabat Izha yg duduk tepat di sebelah Izha
"Hai, Mel !" Izha tersenyum
"Gue liat tadi lu bareng Pak Yori ya ?!"
"Ehm, iya. Tadi gue ketemu dia waktu gue mau berangkat ke sekolah. Eh, dia ngajakin berangkat bareng. Awalnya gue gak mau, tapi dia maksa. Ya udah, gue ikut aja." terang Izha panjang lebar
"0uwh gitu ! Ciiiieeeee...Ciiiieeeee... ABG tua nih !! hehehe :P" goda Meli cengengesan
"Apaan sih !!"
"Tuh buktinya. Pipimu merah !"
"Aaaaahh ! Nggak !"
Bel pelajaran pun berdentang keras menggetarkan dinding-dinding lonceng. Para siswa berlarian menuju ruang kelas bak sekelompok zebra yg terbirit-birit ketika sang pemangsa datang. Seorang guru laki-laki memasuki kelas XII-EXACT-1, kelas Izha belajar dengan lembaran-lembaran kertas ulangan di tangan kirinya dan sebuah tas gendong yg menempel di punggungnya.
"Selamat pagi murid-murid." sapaguru itu saat tiba di kelas Izha
"Pagi, Pak !" jawab siswa serempak termasuk Izha
"Ini adalah hasil ulangan kalian 3 hari yg lalu." ungkap guru itu sambil meletakkan kertas ulangan mereka di atas meja Izha
"Wuuuuaaaaaahh... Langsung dibagikan saja, Pak !" serempak siswa
"0k ! Bapak bagikan sekarang sekalian Bapak sebutkan nilainya." kata pak guru
"Jangan, Pak ! Malu kalau nanti nilainya jelek !" ucap Meli
"Loh, kenapa harus malu ? Itu kan hasil kerja keras kalian sendiri bukan orang lain ?!"
Akhirnya Pak guru (Pak Yori) membagikan lembar demi lembar kertas ulangan pada semua siswa seraya menyebutkan nilai masing-masing siswa. Dari 30 siswa, Izha lah yg mendapatkan nilai tertinggi, yakni 94. Tak heran memang. Tampak luar, seorang Izha yg urak-urakan, ternyata memiliki IQ yg cukup membanggakan. Penampilan luarnya bukanlah jaminan untuk tidak berprestasi. Selain di akademik, Izha juga berprestasi di bidang nonakademik. Izha adalah bintang tekwondo dari sekolahnya. Banyak guru yg bangga kepadanya, tak terkecuali Pak Yori.
"Bagi kalian yg mendapatkan nilai di bawah rata-rata, harus banyak belajar lagi. Kalian bisa bertanya pada Bapak atau pada teman yg mendapat nilai tinggi seperti Izha !" terang Pak Yori di depan kelas
"Ciiiieeeeee.... mentang-mentang Izha dapet nilai tinggi, jadi di puji-puji terus deh !" sindir Diana dari bangku belakang
"Lah, kan sudah sepantasnya begitu ?!"
"Ya iyalah ! Masa' do'i sendiri nggak di puji ?!" rayu Ringgo
"Kalian ini ngomong apa sih ?"
"Udah deh, Pak ! Kita-kita udah pada tau kali' !!" sahut Akbar
"Tau ? Tau apa maksud kalian ?"
Pak Yori semakin dibuat bingung karena ulah teman-teman Izha. Suasana kelas pun mendadak ramai dan sesekali tawa mereka membuncah membahana di seluruh sudut ruangan.
Jumat, 06 Mei 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar